Sabtu, 03 September 2016
Menemukan Kembali Sastra Jendra ( 2 )
Saat saya masih remaja dan mendengarkan ‘dongeng’ tentang Sastra Jendra dari Ayahanda, benar-benar yang ada di dalam benak saya adalah serangkaian mantra berikut dengan berbagai syaratnya. Puasa, Semedi, kemenyan, menghafal mantra-mantra, dan sekian banyak hal senada, agar suatu ilmu mampu masuk atau ‘manjing’ kekuatannya di dalam diri. Seperti suatu ketika saya berminat untuk menguasai ilmu kekebalan tubuh. Paman saya memberikan mantra dan syarat puasa mutih sekian hari pada hari-hari yang sudah ditentukan. Semua persyaratan saya lakukan tanpa bertanya. Saya lakukan! Dan, saya berhasil pada saat ‘ujian’. Sebilah golok tajam hanya membuat kulit lengan saya memerah. Saat golok tajam menggesek daging lengan, rasanya cukup panas di kulit. Namun, tak ada setetes darahpun yang keluar. Tentu, waktu itu saya berbangga hati. Hingga setiap ada di sekolah, semua teman-teman yang sok jagoan saya tantang. Hahahaha … !!
Dan, cukup mudah melunturkan ilmu ini. Karena saya percaya akan pantangannya. Saya lakukan pantangan itu. Dan, seketika saya tak berani lagi bermain-main pisau tajam di kulit!
Betul, dahulu saya mengira Sastra Jendra adalah ilmu yang tiada berbeda jauh dengan ilmu kanuragan yang pernah saya amalkan. Ternyata, sangat berbeda jauh. Tentu setelah mulai dewasa dan memahami makna dibalik ‘wejangan’ para sesepuh.
Dan, beberapa keanehan yang saya nyatakan di atas, sedikit dapat terkuak setelah memahami apa yang di sampaikan oleh Bhatara Narada. Bhatara Narada menyampaikan sebuah ‘wangsit’ yang sangat terkenal dengan ‘Wangsit Sabda Palon’.
--------
Bersujudlah Resi Wisrawa di hadapan anaknya sendiri, Prabu Danareja. Isak tangis tak tertahan serta permohonan maaf ia sampaikan dengan kepiluan luar biasa. Ia gagal mempersembahkan Sang Dewi Sukesi menjadi permaisuri anaknya. Sang Resi menceritakan segala peristiwa yang sudah terjadi.
Mendengar seluruh cerita Sang Resi, tiada mampu berkata-kata lagi Sang Prabu Danareja. Pun demikian dengan Ibunda Sang Prabu, istri dari Resi Wisrawa. Sebagai seorang wanita, tentu ia dibakar oleh rasa cemburu mendapatkan suaminya telah datang dengan membawa istri baru. Dan, yang lebih menyesakkan perasaannya, perempuan tersebut seharusnya menjadi menantunya!
“Suamiku, Engkau yang sedang bertapa brata bersama Sastra Jendra. Engkau tahu betapa api cintaku tiada pernah padam. Cintaku adalah pengabdian dan pelayanan untukmu. Betapa Engkau junjung begitu tinggi derajat dan harkatku. Aku yakin, itu adalah bagian dari pengejawantahan cintamu padaku pula.”
“Namun, Suamiku. Ada sesak di dada ini yang tiada mampu aku longgarkan. Betapa kuat ikat tali di dada ini. Aku tak beda dengan semua wanita di atas bumi ini. Jika aku mau jujur, menjadi sebuah kebohongan besar jika aku mencintaimu saat ini. Sebab, saat ini cintaku adalah tentang kenangan masa lalu!”
“Suamiku, Sang Pertapa Sastra Jendra! kali ini cintaku merasa di uji. Yang berarti aku tidak perlu lagi merindukan dirimu. Manakala aku paksakan merindukan cinta padamu, berarti aku harus berhadapan dengan cemburu, karena engkau telah memiliki isteri yang baru. Biarkanlah cinta ini akan kugenggam. Dan, mulai kejap ini, cintaku hanya aku persembahkan kepada Ia yang member asal muasal kehidupan! “.
Bagai terkena badai halilintar, semua teriakan batin istrinya terdengar begitu melengking di telinga Sang Resi. “Sang Pertapa Sastra Jendra!”. Kalimat ini begitu menusuk ruang batinnya. Perih. (Bersambung)
Langganan:
Posting Komentar
(
Atom
)
Tidak ada komentar :
Posting Komentar