Jumat, 02 September 2016

Menemukan Kembali Sastra Jendra ( 1 )


“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito.”
Sebuah kalimat yang beberapa kali saya dengar. Salah satunya dalam pertunjukan wayang kulit yang pernah saya tonton. Ki Narto Sabdo. Demikian nama dalang kondang itu biasa disebut.

“Di dalam kegelapan yang ada hanya lupa, di dalam keadaan lupa maka akan mudah melakukan tindakan pria dan wanita”.

Membaca terjemahan dalam bahasa Indonesia, saya tersenyum sendiri. Kegelapan bisa berarti secara harfiah gelap, ketiadaan cahaya atau penerangan dari lampu. Sangat umum pada akhirnya jika dua sejoli pria dan wanita berduaan dalam kegelapan, maka sangat bisa melakukan berbagai tindakan yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami-istri. Tentunya, itu bisa terjadi pada saya dan seorang perempuan di dalam kegelapan. Hahahaha… !

Kegelapan juga bisa dimaknai sebagai kebuntuan daya nalar akan sesuatu, masuk dalam suatu kondisi penuh dengan masalah pelik, seakan tidak ada jalan keluarnya. Pun, kondisi ini sangat rentan terhadap tindakan yang penuh dengan ‘lupa’.

Namun  ada yang menarik jika menyimak untaian kalimat dari Ki Dalang di atas. Apa itu?

Sang Dalang sedang mengurai tentang kisah Resi Wisrawa yang konon sedang ‘lupa’. Meski para Dewa sudah mewariskan ilmu pamungkas, yakni ‘Sastra Jendra Pangruwating Diyu’, eh,.. ya ternyata Sang Resi masih juga mendapatkan ‘lupa’. Sehingga terjadilah ‘kegiatan’ mengasyikan bersama Sang Dewi Sukesi. Meski, konon ‘aib’ tersebut juga tidak lepas dari campur tangan Bhatara Guru dan Dewi Uma, istrinya.

Seorang Wisrawa adalah pewaris Ilmu Tertinggi “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. Ilmu atau ajaran yang konon mampu membuat siapapun dinaikkan derajat keluhuran budinya, setingkat keluhuran para Dewata. Mampu menguraikan segenap rahasia semesta. Dan, sangat tidak diperkenankan untuk menguraikan ilmu ini secara sembarangan. Hanya orang-orang terpilihlah yang diperkenankan. Amanah untuk mengabdikan ajaran Sastra Jendra, para Dewata mempercayakannya kepada Wisrawa.

Kejadian ‘lupa’ Resi Wisrawa tak lepas dari kisah sebelumnya. Demi memenuhi permintaan anaknya, Prabu Danareja, untuk dapat memenangkan sayembara. Siapapun yang mampu mengalahkan Paman dari Dewi Sukesi, yakni Jambu Mangli dan juga mampu membabarkan Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, maka dialah yang berhak memboyong Dewi Sukesi dan menjadikannya permaisuri. Itulah dua syarat dyang diminta oleh Dewi Sukesi.

Konon, Prabu Danareja ‘angkat tangan’. Tidak mampu memenuhi dua persyaratan tersebut. Sehingga, meminta bantuan Ayahandanya. Dan, berhasillah Sang Resi Wisrawa menyelesaikan kedua persyaratan tersebut.

Keberhasilan Resi Wisrawa, tak lepas dari ke’lupa’an-nya. Pada saat membabarkan Ilmu Sastra Jendra, terjadilah berbagai peristiwa. Termasuk peristiwa ‘lupa’ bahwa Sang Resi telah melakukan ‘Masyuk Birahi’ bersama Sang Dewi Sukesi.

Benarkah Sang Resi ‘Lupa’? Ataukah, ‘Lupa’ itu adalah bagian dari Sastra Jendra tersebut?

Nyaris semua penikmat ajaran ‘Kebatinan’, khususnya dari Jawa, sangat mengenal konsep Sastra Jendra ini. Bertebaran literatur-literatur, baik dalam bentuk buku ataupun artikel-artikel yang diunggah ke internet. Hampir semuanya memaparkan dan menarik benang merah yang sama. Di mana ilmu ini adalah ilmu pamungkas untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Resi Wisrawa adalah contoh atau Role Model dari ‘Penghayat’ serta ‘pendakwah’ konsep Sastra Jendra ini. Namun, jika pada akhirnya tolok ukur untuk mengukur seseorang telah meresapi, menghayati serta berhasil me’laku’kan Sastra Jendra ini adalah sempurnanya ‘laku akhlak’, tentu suatu hal yang bagi saya cukup aneh adalah “Mengapa Resi Wisrawa sampai bisa terjerumus dalam ‘Lupa’? “. Bukankah ia adalah Sang Pewaris dan Sang Terpilih dari para Dewata untuk men’dakwah’kan ilmu ini? Tentu seharusnya para Dewata sudah mampu menilai kualitas dari seorang Wisrawa. Tapi kenyataannya? Ya, Resi Wisrawa ‘lupa’. Masuk dalam keasyikan birahi bersama Dewi Sukesi.

Tunggu, ada hal yang cukup aneh pula. Dimana para Dewata seakan-akan tidak ikhlas jika ilmu ini dikuasai oleh para manusia. Sebab, jika manusia berhasil menguasainya maka sempurnalah kehidupan manusia di mata Sang Pencipta. Konon, para dewata tidak menghendaki hal ini terjadi. Sehingga, pada saat Resi Wisrawa membabarkan Sastra Jendra kepada Sang Dewi Sukesi, Bhatara Guru dan istrinya, Dewi Uma, turun dan masuk ke dalam diri Sang Resi dan Dewi Sukesi. Mempengaruhi alam pikiran kedua insan yang sedang masuk dalam samudera pembabaran Sastra Jendra. Dan, berhasil! Terjadilah apa yang Ki Dalang sampaikan, “Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito”.

Keanehan-keanehan di atas, apakah mempunyai maksud tertentu? Ataukah ada distorsi sejarah pada penceritaan, baik yang tertulis dalam beberapa kitab lawas, seperti dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala, tulisan Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra ? Ataukah juga di awali oleh distorsi penceritaan secara ‘tutur’ atau dari mulut ke mulut sebelum akhirnya ditulis oleh kedua tokoh sejarah Jawa tersebut?

Baiklah, saya tetap mencoba untuk mengheningkan pikiran, menata perasaaan dan terus terkoneksi dengan kesadaran ‘hara’ di dalam diri. Semoga terus mendapatkan kecerahan dalam membuat tulisan ini menjadi semakin ‘hangat’. Tulisan ini khususnya saya peruntukkan kepada diri pribadi, agar terus bertumbuh menjadi manusia yang penuh dengan kesadaran akan kemanusiaan. (Bersambung)

Tidak ada komentar :

Tidak ada komentar :

Posting Komentar