Recent Posts

Sabtu, 03 September 2016



Sang Resi pun akhirnya harus menerima kenyataan. Harus berjalan kembali menyusuri kehidupannya yang sudah teramat sangat berbeda. Menyesal? Ya, tentu saja ada bersit-bersit penyesalan dalam dirinya. Namun, ia adalah seorang Resi yang sudah terasah dengan segala daya tahan dan kebijaksanaan diri. Ia tetap haru hidup. Menerima segala kenyataan dan melakoni kehidupan bersama istri barunya, Dewi Sukesi.

Hingga pada suatu malam, Sang Resi sedang “manekung”. Memanjatkan segenap kesadaran dirinya untuk terhubung dengan kesadaran agung. Hingga akhirnya, Bhatara Narada terketuk untuk turun ke bumi. Menengok Sang Resi dan mempersiapkan pelajaran selanjutnya yang konon adalah bagian dari seluruh rangkaian Sastra Jendra.

 “Duh, Hyang Agung Pemilik segala Keberadaan, Hamba kembalikan seluruh kehidupan Hamba kepadaMu. Hamba tiada pantas untuk meminang segala keberkahan kehidupan, sebab kelalaian Hamba. Hamba pasrahkan kembali!”

Resi Wisrawa terus menghening. Menghentikan segala rapal dan mantra. Bahkan keduanya ia pasrahkan kembali kepada Sang Penguasa Keberadaan.

“Anakku, Wisrawa! Bangunlah!”

Terkesiap dengan suara yang begitu menggelegar dari dalam ruang dadanya, Sang Resi membuka matanya. Ia melihat di depannya telah berdiri seseorang dengan cahaya wibawa yang luar biasa. Sinar putih kemilau menyelimuti sekujur tubuhnya. Ia tanggap. Langsung bersujud penuh kedalaman penghormatan.

“Duh, Bapa Bhatara Narada… ! Salam hormat untukmu Wahai penguasa segala kebijaksanaan.”

Bhatara Narada mengelus pelan kepala Sang Resi. Keduanya kini saling berhadap-hadapan.
Kegelapan malam seakan sirna. Kepenatan udara malam yang sedari sore terasa menyeruak pori kulit, kini terasa lebih segar.

“Ceritakanlah kepadaku, Wahai Wisrawa. Sehingga Engkau akan kembali ingat dan meneliti setiap pikiranmu. Ceritakanlah padaku agar segala beban masa lalumu akan kembali terdaur ulang dalam cahayaKu.”
Sang Resi terdiam. Arah indra pandangnya mulai terangkat ke atas. Terantuk pada sinar rembulan yang terang benderang. Ia larut dalam cerita yang mulai mengalir pelan dari sela-sela bibirnya. ( Bersambung )

--------

Versi Lengkap Tulisan ini akan segera meluncur dalam bentuk buku yang direncanakan segera terbit 2 bulan kedepan. 
Terimakasih telah menyimak secuil dari tulisan saya.
Salam Rahayu

Menemukan Kembali Sastra Jendra ( 3 )


Saat saya masih remaja dan mendengarkan ‘dongeng’ tentang Sastra Jendra dari Ayahanda, benar-benar yang ada di dalam benak saya adalah serangkaian mantra berikut dengan berbagai syaratnya. Puasa, Semedi, kemenyan, menghafal mantra-mantra, dan sekian banyak hal senada, agar suatu ilmu mampu masuk atau ‘manjing’ kekuatannya di dalam diri. Seperti suatu ketika saya berminat untuk menguasai ilmu kekebalan tubuh. Paman saya memberikan mantra dan syarat puasa mutih sekian hari pada hari-hari yang sudah ditentukan. Semua persyaratan saya lakukan tanpa bertanya. Saya lakukan! Dan, saya berhasil pada saat ‘ujian’. Sebilah golok tajam hanya membuat kulit lengan saya memerah. Saat golok tajam menggesek daging lengan, rasanya cukup panas di kulit. Namun, tak ada setetes darahpun yang keluar. Tentu, waktu itu saya berbangga hati. Hingga setiap ada di sekolah, semua teman-teman yang sok jagoan saya tantang. Hahahaha … !!

Dan, cukup mudah melunturkan ilmu ini. Karena saya percaya akan pantangannya. Saya lakukan pantangan itu. Dan, seketika saya tak berani lagi bermain-main pisau tajam di kulit!

Betul, dahulu saya mengira Sastra Jendra adalah ilmu yang tiada berbeda jauh dengan ilmu kanuragan yang pernah saya amalkan. Ternyata, sangat berbeda jauh. Tentu setelah mulai dewasa dan memahami makna dibalik ‘wejangan’ para sesepuh.

Dan, beberapa keanehan yang saya nyatakan di atas, sedikit dapat terkuak setelah memahami apa yang di sampaikan oleh Bhatara Narada. Bhatara Narada menyampaikan sebuah ‘wangsit’ yang sangat terkenal dengan ‘Wangsit Sabda Palon’.

--------

Bersujudlah Resi Wisrawa di hadapan anaknya sendiri, Prabu Danareja. Isak tangis tak tertahan serta permohonan maaf ia sampaikan dengan kepiluan luar biasa. Ia gagal mempersembahkan Sang Dewi Sukesi menjadi permaisuri anaknya. Sang Resi menceritakan segala peristiwa yang sudah terjadi.

Mendengar seluruh cerita Sang Resi, tiada mampu berkata-kata lagi Sang Prabu Danareja. Pun demikian dengan Ibunda Sang Prabu, istri dari Resi Wisrawa. Sebagai seorang wanita, tentu ia dibakar oleh rasa cemburu mendapatkan suaminya telah datang dengan membawa istri baru. Dan, yang lebih menyesakkan perasaannya, perempuan tersebut seharusnya menjadi menantunya!

 “Suamiku, Engkau yang sedang bertapa brata bersama Sastra Jendra. Engkau tahu betapa api cintaku tiada pernah padam. Cintaku adalah pengabdian dan pelayanan untukmu. Betapa Engkau junjung begitu tinggi derajat dan harkatku. Aku yakin, itu adalah bagian dari pengejawantahan cintamu padaku pula.”

“Namun, Suamiku. Ada sesak di dada ini yang tiada mampu aku longgarkan. Betapa kuat ikat tali di dada ini. Aku tak beda dengan semua wanita di atas bumi ini. Jika aku mau jujur, menjadi sebuah kebohongan besar jika aku mencintaimu saat ini. Sebab, saat ini cintaku adalah tentang kenangan masa lalu!”

“Suamiku, Sang Pertapa Sastra Jendra! kali ini cintaku merasa di uji. Yang berarti aku tidak perlu lagi merindukan dirimu. Manakala aku paksakan merindukan cinta padamu, berarti aku harus berhadapan dengan cemburu, karena engkau telah memiliki isteri yang baru. Biarkanlah cinta ini akan kugenggam. Dan, mulai kejap ini, cintaku hanya aku persembahkan kepada Ia yang member asal muasal kehidupan! “.

Bagai terkena badai halilintar, semua teriakan batin istrinya terdengar begitu melengking di telinga Sang Resi. “Sang Pertapa Sastra Jendra!”. Kalimat ini begitu menusuk ruang batinnya. Perih. (Bersambung)

Menemukan Kembali Sastra Jendra ( 2 )

Jumat, 02 September 2016


“Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito.”
Sebuah kalimat yang beberapa kali saya dengar. Salah satunya dalam pertunjukan wayang kulit yang pernah saya tonton. Ki Narto Sabdo. Demikian nama dalang kondang itu biasa disebut.

“Di dalam kegelapan yang ada hanya lupa, di dalam keadaan lupa maka akan mudah melakukan tindakan pria dan wanita”.

Membaca terjemahan dalam bahasa Indonesia, saya tersenyum sendiri. Kegelapan bisa berarti secara harfiah gelap, ketiadaan cahaya atau penerangan dari lampu. Sangat umum pada akhirnya jika dua sejoli pria dan wanita berduaan dalam kegelapan, maka sangat bisa melakukan berbagai tindakan yang biasanya dilakukan oleh sepasang suami-istri. Tentunya, itu bisa terjadi pada saya dan seorang perempuan di dalam kegelapan. Hahahaha… !

Kegelapan juga bisa dimaknai sebagai kebuntuan daya nalar akan sesuatu, masuk dalam suatu kondisi penuh dengan masalah pelik, seakan tidak ada jalan keluarnya. Pun, kondisi ini sangat rentan terhadap tindakan yang penuh dengan ‘lupa’.

Namun  ada yang menarik jika menyimak untaian kalimat dari Ki Dalang di atas. Apa itu?

Sang Dalang sedang mengurai tentang kisah Resi Wisrawa yang konon sedang ‘lupa’. Meski para Dewa sudah mewariskan ilmu pamungkas, yakni ‘Sastra Jendra Pangruwating Diyu’, eh,.. ya ternyata Sang Resi masih juga mendapatkan ‘lupa’. Sehingga terjadilah ‘kegiatan’ mengasyikan bersama Sang Dewi Sukesi. Meski, konon ‘aib’ tersebut juga tidak lepas dari campur tangan Bhatara Guru dan Dewi Uma, istrinya.

Seorang Wisrawa adalah pewaris Ilmu Tertinggi “Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu”. Ilmu atau ajaran yang konon mampu membuat siapapun dinaikkan derajat keluhuran budinya, setingkat keluhuran para Dewata. Mampu menguraikan segenap rahasia semesta. Dan, sangat tidak diperkenankan untuk menguraikan ilmu ini secara sembarangan. Hanya orang-orang terpilihlah yang diperkenankan. Amanah untuk mengabdikan ajaran Sastra Jendra, para Dewata mempercayakannya kepada Wisrawa.

Kejadian ‘lupa’ Resi Wisrawa tak lepas dari kisah sebelumnya. Demi memenuhi permintaan anaknya, Prabu Danareja, untuk dapat memenangkan sayembara. Siapapun yang mampu mengalahkan Paman dari Dewi Sukesi, yakni Jambu Mangli dan juga mampu membabarkan Ilmu Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, maka dialah yang berhak memboyong Dewi Sukesi dan menjadikannya permaisuri. Itulah dua syarat dyang diminta oleh Dewi Sukesi.

Konon, Prabu Danareja ‘angkat tangan’. Tidak mampu memenuhi dua persyaratan tersebut. Sehingga, meminta bantuan Ayahandanya. Dan, berhasillah Sang Resi Wisrawa menyelesaikan kedua persyaratan tersebut.

Keberhasilan Resi Wisrawa, tak lepas dari ke’lupa’an-nya. Pada saat membabarkan Ilmu Sastra Jendra, terjadilah berbagai peristiwa. Termasuk peristiwa ‘lupa’ bahwa Sang Resi telah melakukan ‘Masyuk Birahi’ bersama Sang Dewi Sukesi.

Benarkah Sang Resi ‘Lupa’? Ataukah, ‘Lupa’ itu adalah bagian dari Sastra Jendra tersebut?

Nyaris semua penikmat ajaran ‘Kebatinan’, khususnya dari Jawa, sangat mengenal konsep Sastra Jendra ini. Bertebaran literatur-literatur, baik dalam bentuk buku ataupun artikel-artikel yang diunggah ke internet. Hampir semuanya memaparkan dan menarik benang merah yang sama. Di mana ilmu ini adalah ilmu pamungkas untuk mencapai kesempurnaan hidup.

Resi Wisrawa adalah contoh atau Role Model dari ‘Penghayat’ serta ‘pendakwah’ konsep Sastra Jendra ini. Namun, jika pada akhirnya tolok ukur untuk mengukur seseorang telah meresapi, menghayati serta berhasil me’laku’kan Sastra Jendra ini adalah sempurnanya ‘laku akhlak’, tentu suatu hal yang bagi saya cukup aneh adalah “Mengapa Resi Wisrawa sampai bisa terjerumus dalam ‘Lupa’? “. Bukankah ia adalah Sang Pewaris dan Sang Terpilih dari para Dewata untuk men’dakwah’kan ilmu ini? Tentu seharusnya para Dewata sudah mampu menilai kualitas dari seorang Wisrawa. Tapi kenyataannya? Ya, Resi Wisrawa ‘lupa’. Masuk dalam keasyikan birahi bersama Dewi Sukesi.

Tunggu, ada hal yang cukup aneh pula. Dimana para Dewata seakan-akan tidak ikhlas jika ilmu ini dikuasai oleh para manusia. Sebab, jika manusia berhasil menguasainya maka sempurnalah kehidupan manusia di mata Sang Pencipta. Konon, para dewata tidak menghendaki hal ini terjadi. Sehingga, pada saat Resi Wisrawa membabarkan Sastra Jendra kepada Sang Dewi Sukesi, Bhatara Guru dan istrinya, Dewi Uma, turun dan masuk ke dalam diri Sang Resi dan Dewi Sukesi. Mempengaruhi alam pikiran kedua insan yang sedang masuk dalam samudera pembabaran Sastra Jendra. Dan, berhasil! Terjadilah apa yang Ki Dalang sampaikan, “Jroning peteng kang ono mung lali, jroning lali gampang nindakake kridaning priyo wanito”.

Keanehan-keanehan di atas, apakah mempunyai maksud tertentu? Ataukah ada distorsi sejarah pada penceritaan, baik yang tertulis dalam beberapa kitab lawas, seperti dalam lakon Arjuno Sastra atau Lokapala, tulisan Kyai Yasadipura dan Kyai Sindusastra ? Ataukah juga di awali oleh distorsi penceritaan secara ‘tutur’ atau dari mulut ke mulut sebelum akhirnya ditulis oleh kedua tokoh sejarah Jawa tersebut?

Baiklah, saya tetap mencoba untuk mengheningkan pikiran, menata perasaaan dan terus terkoneksi dengan kesadaran ‘hara’ di dalam diri. Semoga terus mendapatkan kecerahan dalam membuat tulisan ini menjadi semakin ‘hangat’. Tulisan ini khususnya saya peruntukkan kepada diri pribadi, agar terus bertumbuh menjadi manusia yang penuh dengan kesadaran akan kemanusiaan. (Bersambung)

Menemukan Kembali Sastra Jendra ( 1 )